Pages

Kamis, 01 November 2012

Fenomena dan Problem Masyarakat Modern



FENOMENA MASYARAKAT MODERN
 DAN PROBLEMATIKANYA

Dewasa ini umat manusia hidup pada zaman modern yang ditandai oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia mendapatkan berbagai kemudahan dan kesenangan hidup, karena hampir semua kebutuhan hidup mereka terutama yang bersifat lahiriah dapat dipenuhi dengan bantuan mesin dan robot. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasi telah mengantarkan manusia memasuki era globalisasi, suatu era di mana manusia mampu melakukan hubungan antar bangsa sejagat dalam berbagai segi kehidupan secara lebih luas, lebih mudah, dan lebih cepat.
Berkat kemajuan teknologi transportasi, kontak langsung antar bangsa semakin sering terjadi sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pikiran, gagasan serta saling mempengaruhi yang pada gilirannya dapat mengubah pola pikir dan tingkah laku masing-masing. Demikian juga, berkat kemajuan teknologi komunikasi dunia terasa kecil dan menjadi transparan. Semua kejadian di suatu negara dalam waktu yang sama dapat diketahui oleh manusia sejagat. Hampir tidak ada rahasia suatu negara atau masyarakat yang tidak diketahui oleh negara atau masyarakat lain. Untuk menghadiri seminar internasional, orang tidak harus pergi meninggalkan negaranya masing-masing. Untuk belanja berbagai keperluan sehari-hari, orang tidak perlu keluar rumah dan membayar uang kontan. Begitu canggihnya sistem perdagangan dan pembayaran, orang dapat bepergian kemana saja dan membeli apa saja tanpa membawa uang tunai, tetapi cukup dengan membawa bank card. Perkembangan teknologi yang sangat pesat sejak dasawarsa 70-an telah menimbulkan revolusi informasi yang melanda semua bangsa, baik di negara-negara maju maupun negara-negara berkembang tanpa menghiraukan apakah masyarakatnya sudah siap menerima perubahan yang sedemikian cepat atau tidak.
Dewasa ini arus globalisasi semakin terasa. Perkembangan dunia internasional baik dalam bidang ekonomi, politik maupun sosial budaya secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Arus globalisasi, baik positif maupun negatif telah menembus batas-batas negara, bahkan menembus dinding-dinding rumah tangga kita. Jika kita tidak siap menghadapinya, dapat dipastikan arus globalisasi dapat menimbulkan malapetaka. Karena melalui teknologi komunikasi seperti radio, televisi, video, internet, dan yang lain, sangat memungkinkan terjadinya penyebaran nilai-nilai baru yang dapat menggoyahkan nilai-nilai yang selama ini dianggap baku, termasuk nilai-nilai agama. Demkian juga melalui teknologi komunikasi, kebiasaan-kebiasaan buruk suatu masyarakat seperti penyalahgunaan narkoba, alat kontrasepsi, minuman keras, dan pergaulan bebas akan berdampak negatif terhadap masyarakat Indonesia.
Ditinjau dari aspek sejarah, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengantarkan manusia menuju zaman modern dan era globalisasi pada saat sekarang ini, bermula dari revolusi ilmu pengetahuan pada akhir abd XV Masehi, yang ditandai oleh kemenangan rasionalisme dan empirisme terhadap dogmatisme agama di Barat. Perpaduan rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi, telah melahirkan apa yang disebut dengan metode ilmiah. Dengan metode ilmiah, kebenaran pengetahuan hanya diukur dengan kerangka pemikiran yang koheren dan logis serta dapat dibuktikan melalui pengujian secara empirik. Dengan kata lain, suatu pengetahuan baru diakui kebenarannya secara ilmiah jika secara logika bersifat koheren (runtut) dengan kebenaran sebelumnya dan didukung oleh fakta empirik.
Kepercayaan yang berlebih-lebihan terhadap kebenaran rasionalisme dan empirisme sebagai metode ilmiah, menyebabkan masyarakat Barat kurang apresiatif terhadap pengetahuan yang berada di luar lingkup pengujian metode ilmiah, termasuk di dalamnya pengetahuan dan nilai-nilai religius. Inilah ciri-ciri modernisme, yaitu memisahkan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang bersumber dari nilai-nilai religius. Hal ini dapat dimengerti karena sejak awal kelahirannya, modernisme memang merupakan suatu bentuk “pembangkangan” terhadap tradisi Kristen yang mengungkung pemikiran manusia. Sebagaimana dikatakan Arnold Toynbee, bahwa modernisme semula muncul di Barat ketika berterima kasih bukan kepada Tuhan, melainkan kepada diri mereka sendiri karena mereka telah berhasil mengatasi kungkungan Kristen Abad Pertengahan.
Akibat penggunaan akal yang terlalu berlebihan dengan mengesampingkan dimensi spiritual dan nilai-nilai agama, maka kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menimbulkan persoalan serius bagi kehidupan manusia di zaman modern. Antara lain adalah:
Pertama, hilangnya orientasi hidup yang bermakna dan pegangan moral yang kokoh. Pada umumnya, masyarakat industri maju (modern) tidak tahu lagi untuk apa mereka dihidupkan, sebagaimana mereka juga tidak tahu bahwa sesudah mati mereka akan dibangkitkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban dan menerima balasan dari amal perbuatan mereka di alam dunia. Mereka tidak lagi mengenal Allah SWT sebagaimana mereka juga tidak mau tahu tentang ajaran-ajaran agama yang mengatur kehidupan mereka. Tujuan hidup mereka hanya terbatas pada pencapaian sasaran-sasaran yang bersifat material dan duniawi. Yang terpenting bagi mereka adalah bekerja, mencari uang, dan bersenang-senang. Mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur, yang ada dalam benak mereka adalah bekerja dan mencari uang, tidak peduli apakah pekerjaan tersebut halal atau haram. Sesudah itu mereka mencari kesenangan-kesenangan untuk memperturutkan hawa nafsunya dengan berjudi, mengunjungi diskotik, bar, nightclub, mengkonsumsi minuman keras, berzina, dan sebagainya. Akibatnya, di balik gemerlapnya kemajuan hal-hal bersifat materi yang sangat memukau, masyarakat modern menghadapi gejala yang dinamakan the agony of modernization (adzab atau kesengsaraan yang disebabkan oleh modernisasi). Gejala the agony of modernization yang merupakan ketegangan psikososial, dapat dibuktikan dengan semakin meningkatnya angka-angka kriminalitas yang disertai dengan tindak kekerasan, perkosaan, pembunuhan, judi, penyalahgunaan obat/ narkotika/ minuman keras, kenakalan remaja, promiskuitas, prostitusi, bunuh diri, gangguan jiwa, dan lain sebagainya. Hal ini bukan hanya dialami oleh masyarakat di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan negara-negara Eropa, tetapi juga telah menimpa sebahagian masyarakat Indonesia.
Kedua, terjadinya pergeseran tata nilai dari tatanan kehidupan yang bertumpu pada nilai-nilai spiritual beralih pada pola hidup materialistic, hedonistic, bahkan sekularistik. Hasil penelitian tentang kehidupan masyarakat industri Barat telah menggoreskan catatan-catatan yang antara lain adalah sebagai berikut:
“Proyek-proyek industri selalu menghasilkan kemudahan-kemudahan dan kenikmatan-kenikmatan. Akan tetapi manusia harus menempatkan diri sebagai bagian dari mesin yang didesain secara rasional menurut hukum fisika. Mereka lebih banyak bergaul dengan mesin-mesin. Dalam pekerjaan seperti ini mereka merasa tidak memerlukan agama sehingga menjadi agnostic, bahkan atheistic. Konsekwensinya, pandangan hidup mereka menjadi sekuler.

Pergeseran tata nilai sebagaimana yang dialami masyarakat industri Barat tersebut, kini mulai terasa pada sebagian masyarakat Indonesia. Antara lain tercermin pada hal-hal sebagai berikut:
1.  Semakin berkembangnya pandangan dan orientasi hidup materialistic. Akibatnya, terjadilah pergeseran pola hidup dari pola hidup sederhana dan produktif kepada pol hidup mewah dan konsumtif untuk mengejar kepuasan hedonistic sesaat. Untuk memenuhi nafsunya terhadap materi, sebagian bangsa Indonesia tidak segan-segan melakukan praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)
2.  Semakin mencainya nilai-nilai agama, kaidah-kaidah sosial dan susila. Orang tidak lagi merasa takut berbuat dosa dan melanggar hokum sehingga dengan tanp beban melakukan berbagai kejahatan (crime) seperti pembunuhan dan perkosaan, penodongan dan penjambretan, pencurian dan perampokan, perjudian, perkelahian antar pelajar, tawuran antar warga masyarakat dan sebagainya. Mereka juga tidak merasa malu melakukan perzinahan dan kumpul kebo (free sex), menenggak minuman keras (alcoholism), penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (drug abuse) dan berbagai perbuatan maksiat lainnya. Bahkan yang lebih menyedihkan, mereka merasa bangga dalam melakukan berbagai perbuatan maksiat tersebut. Akibatnya, banyak di antara anak-anak Indonesia yang menjadi korban narkoba dan melakukan praktek aborsi, serta tidak sedikit di antara mereka yang terserang virus HIV/ AIDS.
3.  Semakin berkembangnya sikap serba boleh dalam masyarakat (permissive society) sehingga mereka cenderung membiarkan terjadinya berbagai pelanggaran hokum agama dan norma-norma susila. Mereka mulai meragukan lembaga perkawinan dan cenderung untuk memilih hidup bersama tanpa nikah.
4.  Semakin berkembangnya sikap individualis bahkan egois, karena dengan alat-alat elektronik mereka merasa bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Akibatnya, hubungan kekeluargaan dan persahabatan yang semula erat dan kuat, kini cenderung menjadi longgar dan rapuh. Struktur keluarga yang semula extended family cenderung kea rah nuclear family bahkan sampai kepada single parent family.
Ketiga, timbulnya perasaan terasing (alienasi), frustasi, dan kehampaan eksistensi. Akibat dari hilangnya orientasi hidup yang bermakna karena hanya berorientasi pada dunia materi, maka manusia modern banyak mengalami keterasingan diri (self alienation), frustasi, dan kehampan eksistensi. Sebagaimana dikatakan oleh Alvin Toffler, bahwa di antara gejala-gejala negatif yang muncul di kalangan masyarakat industri maju (modern) adalah timbulnya rasa kesepian, hilangnya struktur masyarakat yang kokoh, dan ambruknya makna yang berlaku. Pengertian alienasi sebagaimana dijelaskan Eric Fromm, seorang ahli psikoanalisis adalah sebagai berikut:
Alienasi yang kita temukan dalam masyarakat modern adalah hamper total; ia meliputi hubungan manusia dengan pekerjaannya, ke benda-benda yang ia konsumsi, ke negara, ke sesamanya, dan ke dirinya sendiri. Manusia telah menciptakan suatu dunia dari barang-barang buatan manusia yang tidak pernah ada sebelumnya. Ia telah membangun permesinan sosial yang ruwet untuk mengatur permesinan teknis yang ia bangun. Namun seluruh kreasinya itu tegak di atas dan mengatasi dirinya sendiri. Semakin kuat dn besar kekuatan yang ia lepaskan, semakin ia merasa dirinya tak berdaya sebagai manusia. Ia menghadapi dirinya sendiri dengan kekuatan dirinya yang dikandung dalam benda-benda yang ia ciptakan, yang terasing dari dirinya sendiri. Ia telah dikuasai oleh kreasinya sendiri, dan telah kehilangan kekuasaan terhadap dirinya sendiri. Ia telah membuat sebuah patung anak sapi emas dan berkata “Inilah dewamu yang membawa kamu keluar dari Mesir”.

Alienasi yang menimpa masyarakat modern telah menimbulkan rasa kesepian yang mencekam sehingga mereka merindukan perkawanan yang akrab dan hangat serta mendambakan penjelasan tentang apa tujuan hidup dan akan kemana sesudah manusia meninggal dunia. Dalam keadaan demikian, maka orang-orang modern yang merasa kesepian mulai tertarik kepada kultus-kultus, yaitu bentuk-bentuk gerakan spiritual (dan keagamaan) yang menawarkan persahabatan sejati dan kehidupan bersama yang akrab dan hangat. Kehangatan dan perhatian yang tiba-tiba antar sesame anggota kultus ini sedemikian kuatnya memberi rasa kebaikan kepada mereka sehingga seringkali mereka bersedia untuk memutuskan hubungan dengan keluarga dan teman-teman lama mereka, serta untuk mendermakan penghasilannya kepada kultus. Kadang-kadang mereka menerima narkotika dan bahkan seks sebagai imbalannya. Seperti yang dilakukan oleh sekte Children of God (di Amerika) beberapa waktu lalu yang melakukan pesta seks di antara sesama anggota.
Kultus bukan sekedar perkumpulan, karena ia juga menawarkan struktur yang banyak dibutuhkan di samping menyodorkan ketentuan-ketentuan yang ketat pada tingkah laku. Mereka menuntut dan menciptakan disiplin yang sangat kuat, pengorganisasian yang sangat ketat, absolutistik, dan dengan sendirinya kurang toleran kepada kelompok lain. Bahkan sebagian bertindak begitu jauh sehingga memaksakan disiplin melalui penyiksaan, kerja paksa, dan bentuk-bentuk kurungan serta penjara yang mereka buat untuk diri mereka sendiri. Lebih dari itu, tidak jarang mereka melakukan bunuh diri bersama, seperti yang dilakukan oleh sekitar 235 anggota sekte Pemujaan Hari Kiamat (sekte Pemulihan 10 Perintah Tuhan) di bawah pimpinan Joseph Kibwetere di sebuah gereja di Kanungu, distrik Rukingire yang terletak sekitar 320 kilometer Baratdaya Kempala, ibukota negara Uganda pada hari Jum’at 17 Maret 2000 dengan cara melakukan bakar diri. Pimpinan sekte ini menyatakan, bahwa dunia akan berakhir pada 31 Desember 1999, tapi pada akhirnya mengubah pernyataannya tersebut menjadi akhir tahun 2000. Sebelum melakukan bakar diri, para anggota sekte menjual seluruh harta bendanya di pusat perdagangan Kanungu sebagai persiapan kematian mereka.
Kultus biasanya berpusat pada ketokohan seorang pribadi yang menarik, berdaya pikat retorik yang memukau dn dengan sederhana namun penuh keteguhan menjanjikan keselamatan dan kebahagiaan. Contoh gerakan kultus yang paling sering disebut  adalah Unification Church, Divine Light Mission, Hare Krishna, The Way, People’s Temple, Tahweh ben Yahweh, New Age, Aryan Nation, Christian Identity, The Order, Scientology, Jehovah Witnesses, Children of God, Gerakan Bhagwan Shri Rajneesh dan lain-lain. Semuanya di Amerika, namun hal serupa dan yang analog dengan itu juga muncul di mana-mana, termasuk akhir-akhir ini di Indonesia.   
Di antara aliran-aliran atau sekte-sekte di Indonesia yang memiliki kemiripan dengan kultus yang berkembang di Amerika adalah Aliran Islam Jamaah yang kemudian berubah menjadi Lemkari dan kini berubah lagi menjadi Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Aliran ini mengklaim bahwa satu-satunya jamaah umat Islam yang benar adalah jamaah Islam Jamaah. Amir yang diakui hanyalah Nur Hasan Al-Ubaidah Lubis, pendiri dan pemimpin Islam Jamaah. Orang-orang Islam yang tidak tergabung dalam kelompok Islam Jamaah adalah kafir. Sebagai konsekwensi logis dari doktrin tersebut, maka para anggota kelompok ini bersikap eksklusif. Mereka mempunyai faham, bahwa orang Islam di luar Islam Jamaah adalah najis dan kelak akan masuk neraka, Karen hanya merekalah yang akan masuk surga. Para anggota Islam Jamaah tidak boleh shalat berjamaah dan menikah kecuali dengan sesama anggota. Berhubung aliran ini telah menyimpang jauh dari ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits serta menimbulkan keresahan masyarakat, maka Kejaksaan Agung melalui Surat Keputusan Jaksa Agung RI No. 089/DA/10/1971 tertanggal 29 Oktober 1971 telah melarang Gerakan Darul Hadits (Islam Jamaah) di seluruh Indonesia. Kemudian pada tanggal 20 Agustus 1979 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi DKI Jakarta mengeluarkan fatwa bahwa Islam Jamaah adalah aliran sesat.
Demikian juga Aliran Tariqat Al-Arqam (Daarul Arqam) yang didirikan oleh Abuya Syeh Ashari Muhammad di Kuala Lumpur Malaysia pada tahun 1968. Aliran ini mempunyai faham, bahwa guru besar mereka almarhum Syeh Muhammad Suhaimi pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. di dalam Ka’bah dalam keadaan sadar, bukan mimpi. Dalam pertemuan tersebut, Rasulullah SAW. memberikan tuntunan hidup, mengajarkan bacaan-bacaan aurad (dzikir) dan tata cara membacanya kepada Syeh Suhaimi yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku yang diberi judul “Aurad Muhammadiah”. Buku tersebut juga berisi cerita-cerita tentang peristiwa-peristiwa aneh yang dialami oleh Syeh Suhaimi yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang wali Allah yang memiliki karamah (keramat). Seperti cerita sewaktu Syeh Suhaimi berlindung di dalam gua, tiba-tiba ada suara yang memanggil-manggil “Hai Muhammad bangunlah”; ketika Syeh Suhaimi berada di tengah laut pernah ditolong oleh ikan besar; Syeh Suhaimi juga bisa berada dalam dua tempat (Singapura dan Mekkah) dalam waktu yang bersamaan, dan sebagainya.
Para pengikut aliran ini jug meyakini, bahwa Syeh Suhaimi yang lahir di Kecamatan Sudagaran Wonosobo Jawa Tengah pada tahun 1259 H/ 1838 M, dan secara dlahir telah wafat pada tahun 1925 M adalah Imam Mahdi yang sedang gaib dan akan muncul kembali. Mereka juga meyakini, bahwa pemimpin mereka Abuya Ashari Muhammad adalah orang suci sehingga dapat melakukan komunikasi langsung dengan Nabi Muhammad SAW. Menurut Mahatir Muhammad, para pengikut Abuya Ashari Muhammad mirip dengan para pengikut Branch Davidian pimpinan David Koresh di Waco Amerika Serikat. Dengan alasan bahwa Al-Arqam telah melakukan penyimpangan aqidah, maka pda tanggal 5 Agustus 1995, pemerintah Malaysia mengeluarkan keputusan tentang pelarangan (pengharaman) gerakan Daarul Arqam atau Al-Arqam. Hal ini diikuti oleh kesepakatan para Menteri Agama se-ASEAN yang mengadakan pertemuan di Langkawi Malaysia pada tanggal 5-6 Agustus 1995 untuk merumuskan sikap pelarangan bersama terhadap Al-Arqam. Aliran ini telah berkembang di seluruh ASEAN, bahkan menyebar ke berbagai kawasan seperti Pakistan, Kazaktan, dan Azerbaijan, Cina, Amerika, dan Eropa.
Di kalangan masyarakat Islam Indonesia, kedua aliran tersebut dinilai sebagai aliran sempalan karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Bersikap eksklusif dan merasa hanya kelompoknya saja yang paling benar, sehingga menganggap kelompok lain salah dan tersesat.
2. Menerapkan disiplin yang sangat ketat dan kesetiaan yang mutlak kepada pemimpin kelompok atau aliran
3.  Mengkultuskan pimpinan atau imam
4.  Membuat lembaga pernikahan sendiri dan melecehkan lembaga pernikahan resmi
5.  Anti kemapanan, baik terhadap pemerintah yang sah maupun terhadap organisasi-organisasi Islam yang ada
Keempat, terjadinya perubahan sosial yang sangat drastis di tengah-tengah masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator sebagai berikut:
1.  Meningkatnya kebutuhan hidup. Kalau pada masyarakat agraris tradisional, manusia sudah merasa cukup apabila telah tercukupi kebutuhan primernya seperti sandang, pangan, dan papan, maka pada masyarakat modern, kebutuhan primer tersebut berubah menjadi prestise yang bersifat sekunder. Akibatnya, kehidupan orang-orang modern lebih banyak digunakan untuk mengejar materi dan prestise. Segala upay akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya tadi sehingga terkadang harus melanggar norma-norma yang ada seperti korupsi, kolusi, dan manipulasi dengan mengorbankan orang lain. Semua ini akan membawa mereka kepada hidup seperti mesin yang tidak mengenal istirahat. Akibat lebih lanjut adalah timbulnya kegelisahan (anxiety) yang tidak jelas ujung pangkalnya sehingga menghilangkan rasa bahagia dalam hidup.
2.  Timbulnya rasa individualis dan egois. Karena kebutuhn sekunder meningkat, maka berkembanglah rasa asing dn terlepas dari ikatan sosial. Orang lebih memikirkan diri sendiri dari pada orang lain. Urusan orang lain tidak lagi menjadi perhatiannya sehingga mereka akan merasa kesepian dalam hidup ini. Semua hubungn dengan orang lain didasarkan pada kepentingan, bahkan motif profit (motif keuntungan), bukan hubungan persaudaraan yang didasarkan pada rasa kasih sayang dan saling mencintai. Seperti hubungn bawahan dengan atasan, dosen dengan mahasiswa dan sebagainya.
3.  Persaingan dalam hidup. Berangkat dari danya kebutuhan yang meningkat, yang membawa manusia modern kepada sikap mementingkan diri sendiri, maka terjadilah persaingan dalam hidup. Persaingan itu didorong oleh prestise yang tinggi sehingga terjadilah hal-hal yang tidak sehat, seperti memfitnah orang lain, menjatuhkn teman atau menyengsarakannya, bahkan menjerumuskannya ke penjara dan membunuhnya semata-mata untuk meraih keuntungan pribadi. Akibatnya, kehidupan sosial menjadi berantakan dan persahabatan berubah menjadi permusuhan.
 

Semoga materi sederhana ini dapat menjadi bahan “perenungan atau pemikiran” sekaligus menambah wawasan keilmuan kita, dan semoga mendapat Berkah-Nya… Amin.

Referensi:
Al-Qur’an
Hawari, Dadang. 2001. Al-Qur’an, Ilmu Kedokteran, dan Kesehatah Jiwa. Cetakan Kesepuluh. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Prima Yasa

Nasution, Harun. 1995. Islam Rasional. Cetakan Ketiga. Bandung: Mizan
Rasyid, Hamdan. 2009. Konsep Dzikir menurut Al-Qur’an dan Urgensinya bagi Masyarakat Modern. Jakarta Timur: Insan Cemerlang dan PT. Intimedia Ciptanusantara       

Ridwan, Kafrawi. 1987. Metode Dakwah pada Masyarakat Industri. Jakarta: Indotrayon

Suriasumantri, Jujun. S. 1983. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: PT. Gramedia

0 komentar:

Poskan Komentar